Skip to main content

Weekly Profile ke-18 Prof. Dr. Jamal Faruq Jibril Mahmud al-Daqqaq


-----------------------------------------------
Rasanya, nama beliau di telinga para mahasiswa Al-Azhar begitu familiar. Benar saja, beliau merupakan kepala Departemen Da’wah & Tsaqafah Universitas Al-Azhar, Kairo. Di balik kedudukannya saat ini, jalan terjal nan panjang pernah beliau lalui kala menempuh rihlah ‘ilmiyyahnya dalam menuntut ilmu.

Saat kecil, beliau dibina oleh Syeikh Muhammad Mansur untuk menghafal Alquran di Farshout, sebuah kota yang terletak di provinsi Qena, Mesir, tak hanya menghafal, beliau pun telah rampung menyelesaikan 10 Qira'at di bawah bimbingan Syekh Abdul Hakim Abdul Latief dan telah diijazahkan langsung oleh sang guru.

Dilanjutkan dengan menempuh pendidikan formal tingkat dasar, menengah dan tinggi di Madrasah Al-Azhar, Farshout. Tak sampai situ, kegigihannya dalam menuntut ilmu semakin terlihat ketika beliau melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, tak tanggung-tanggung, gelar Doktor beliau gaet dari Universitas yang menjadi barometer kajian keislaman di dunia.

Kemudian saat ini beliau telah lama berkelurga bersama sang isteri, mereka dikaruniai tiga orang anak, Zainab, Ahmad dan Muhammad, namun walau telah berkelurga, amanahnya sebagai seorang alim tetap ia penuhi dengan cara terus menebar manfaat melalui pengajian yang beliau buka.

Di tengah kesibukannya sebagai dosen, beliau juga aktif mengajar di Masjid Al-Azhar dan beberapa madhiyafah (majlis taklim) yang ada di sekitar Darrasah. Muridnya pun beragam, dari masyarakat lokal, mahasiswa asing hingga para masyaikh turut hadir di majelis yang beliau ampu. Inilah yang menjadi salah satu karakter para ulama yang lahir dari rahim Al-Azhar, mereka tidak pernah memandang kasta-sosial dalam melakukan apapun itu, terutama yang berkaitan dengan ilmu.

Beliau aktif mengajar ilmu Qira'at dan tilawah, pernah juga menjadi khatib sekaligus membuka majelis syarh Kharidah Bahiyyah dalam Ilmu Tauhid karangan Imam Dardir di Masjid Al-Azhar. Sampai detik ini pun beliau masih sering mengisi majelis ilmu di berbagai tempat, khususnya di Ruwaq Jawi, Hay Sabi' bersama para pelajar Malaysia.

Selain itu beliau juga aktif menulis, menuangkan ilmunya dalam bentuk tulisan, diantara beberapa karya beliau adalah sebagai berikut:

1.Dirâsât Nassiah fî al-Sîrah al-Nabawiyah
2. Al-Ikhtilâf fi Masâil al-Dîniah : Majâlâtuhu wa da’aimuhu al-Khuluqiyyah.
3. Mabhats fî al-Tawasul wa Radd al-Syubuhât al-Mâni’in
4. 'Alâqah al-Dîn bi anwâ’ al-Tsaqâfah wa al-Tahżîb
5.Ta’lîk a’la Kitâb (Durrunazim fî Zikr al-Khulf baina Riwâyatai Duri Abi Amru wa Hafs Asim) Li Abi Bakr al-Nasyiri dalam Ilmu Qiara'at
6. Mabhats fî Masâil al-Akîdah al-Islamiyyah
7. Ta’lîk a’la Syarh al-Jazariyah fî Ilm al-Tajwîd
8. Bahtsun haula Ta’addudiah al-Adyân wa al-Syarâi’
9. Bahtsun 'an Mafhûm Ahlu al-Sunnah wa al-Jamâ'ah dan masih banyak lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Apa Makna Sifat Wahdaniyah?

Sifat wahdaniyah merupakan salah satu sifat Salbiyah dari sifat-sifat wajib Allah. Sifat salbiyyah yaitu: هي الصفات التي تنفي عن الله ما لا يليق بذاته تعالى "Sifat-sifat yang menafikan dari Allah segala sifat yang tidak layak pada Dzat-Nya" Maka sifat wahdaniyah adalah sifat yang menafikan at-ta'ddud (berbilang-bilang), baik itu berbilang dalam dzat (at-ta'addud fî ad-dzât), berbilang dalam sifat (at-ta'addud fî ash-shifât) dan berbilang pada perbuatan (at-ta'addud fî al-af'âl). Adapun rinciannya sebagai berikut: 1.        Keesaan Dzat (Wahdah ad-Dzât) , ada dua macam: a.        Nafyu al-Kamm al-Muttashil (menafikan ketersusunan internal) Artinya, bahwa dzat Allah tidak tersusun dari partikel apapun, baik itu jauhar mutahayyiz, 'ardh ataupun jism. Dalil rasional: "Jikalau suatu dzat tersusun dari bagian-bagian, artinya dzat itu membutuhkan kepada dzat yang membentuknya. Sedangkan Allah mustahil membutuhkan pada suatu apapun. Ma

10 Prinsip Dasar Ilmu Tauhid

A. Al-Hadd: Definisi Ilmu Tauhid Ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang bisa meneguhkan dan menguatkan keyakinan dalam beragama seorang hamba. Juga bisa dikatakan, ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang membahas jalan dan metode yang bisa mengantarkan kita kepada keyakinan tersebut, melalui hujjah (argumentasi) untuk mempertahankannya. Dan juga ilmu tentang cara menjawab keraguan-keraguan yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan menghancurkan agama Islam itu sendiri. B. Maudhu’: Objek Pembahasan Ilmu Tauhid Ada beberapa pembahasan yang dijelaskan dalam ilmu ini, mulai dari pembahasan `maujud` (entitas, sesuatu yang ada), `ma’dum` (sesuatu yang tidak ada), sampai pembahasan tentang sesuatu yang bisa menguatkan keyakinan seorang muslim, melalui metode nadzori (rasionalitas) dan metode ilmi (mengetahui esensi ilmu tauhid), serta metode bagaimana caranya kita supaya mampu memberikan argumentasi untuk mempertahankan keyakinan tersebut. Ketika membahas ent

10 Prinsip Dasar Ilmu Mantiq

 كل فن عشرة # الحد والموضوع ثم الثمرة ونسبة وفضله والواضع # والاسم الاستمداد حكم الشارع مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجميع حاز الشرفا      Dalam memahami suatu permasalahan, terkadang kita mengalami kekeliruan/salah paham, karena pada tabiatnya akal manusia sangat terbatas dalam berpikir bahkan lemah dalam memahami esensi suatu permasalahan. Karena pola pikir manusia selamanya tidak berada pada jalur kebenaran. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seperangkat alat yang bisa menjaga pola pikirnya dari kekeliruan dan kesalahpahaman, serta membantunya dalam mengoperasikan daya pikirnya sebaik mungkin. Alat tersebut dinamakan dengan ilmu Mantiq. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengulas Mabadi ‘Asyaroh - 10 prinsip dasar -  ilmu Mantiq. A.  Takrif: Definisi Ilmu Mantiq      Ditinjau dari aspek pembahasannya, ilmu Mantiq adalah ilmu yang membahas tentang maklumat – pengetahuan - yang bersifat tashowwuri (deskriptif) dan pengetahuan yang besifat tashdiqi (definit