Skip to main content

10 Prinsip Dasar Ilmu Mantiq

 كل فن عشرة # الحد والموضوع ثم الثمرة
ونسبة وفضله والواضع # والاسم الاستمداد حكم الشارع
مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجميع حاز الشرفا
 
   Dalam memahami suatu permasalahan, terkadang kita mengalami kekeliruan/salah paham, karena pada tabiatnya akal manusia sangat terbatas dalam berpikir bahkan lemah dalam memahami esensi suatu permasalahan. Karena pola pikir manusia selamanya tidak berada pada jalur kebenaran. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seperangkat alat yang bisa menjaga pola pikirnya dari kekeliruan dan kesalahpahaman, serta membantunya dalam mengoperasikan daya pikirnya sebaik mungkin. Alat tersebut dinamakan dengan ilmu Mantiq. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengulas Mabadi ‘Asyaroh - 10 prinsip dasar -  ilmu Mantiq.

A.  Takrif: Definisi Ilmu Mantiq
     Ditinjau dari aspek pembahasannya, ilmu Mantiq adalah ilmu yang membahas tentang maklumat – pengetahuan - yang bersifat tashowwuri (deskriptif) dan pengetahuan yang besifat tashdiqi (definitif). Berkat dua hal tersebut kita dalam memahami hal-hal yang bersifat tashowwuri (deskriptif) dan bersifat tashdiqi (definitif). Namun, ketika ilmu Mantiq ditinjau dari segi manfaatnya, maka ilmu Mantiq didefinisikan sebagai suatu disiplin ilmu yang bisa menjaga akal manusia dari jurang kesalahan dalam berpikir.
    
B. Maudhu’: Objek Pembahasan Ilmu Mantiq
    Ilmu Mantiq fokus membahas 2 hal; yakni ma’lumat tashowwuri dan ma’lumat tashdiqi (pengetahuan yang bersifat deskriptif dan definitif). Pengetahuan yang bersifat deskriptif ini  mengantarkan kita untuk memahami definisi sesuatu – yang dalam istilah Bahasa arab ini disebut dengan istilah Mu’arrif atau Qaul Syarih. Sedangkan Pengetahuan yang bersifat definitif  membantu kita untuk memahami argumentasi dari suatu permasalahan, atau memahami analogi suatu permasalahan dengan permasalahan yang lain – yang dalam ilmu Mantiq dikenal dengan istilah Qiyas.
     
C. Tsamroh: Manfaat mempelajari ilmu Mantiq
  Pada dasaranya, tujuan fundamental mempelajari ilmu Mantiq itu untuk menghindarkan kita dari jurang salah berpikir. Tapi di samping itu, mempelajari ilmu Mantiq memiliki manfaat lain. Sebagai berikut.
1. Ilmu Mantiq membantu kita memahami esensi dan tabiat pola pikir kita sebagai manusia.
2. Tujuan mempelajari ilmu Mantiq secara umum adalah kemampuan untuk mengambil inti sari dari dasar-dasar pemikiran manusia.
3. Mempelajari ilmu Mantiq bisa membantu kita untuk menghindari kekeliruan ketika berpikir dengan menggunakan tata cara yang tertera di dalam ilmu Mantiq.
4. Ilmu Mantiq membantu kita untuk mematuhi kebenaran dan menjauhi kebatilan, serta menyingkap tabir kesalahpahaman berpikir di dalam otak kita.
5. Menurut para peniliti, ilmu Mantiq bisa menghilangkan rasa fanatisme terhadap sebuah pendapat dan membantu kita supaya bisa jernih dalam berpikir dan tidak tunduk terhadap hawa nafsu.
6. Dalam suatu aspek, ilmu Mantiq dapat menganalisa dan menjaga susunan bahasa, serta memilah lafad yang objektif ketika ingin menggunakan suatu makna yang diinginkan.
7. Mempelajari ilmu Mantiq dapat membantu kita untuk menjawab bahkan membantah syubhat (keraguan-keraguan) yang dilontarkan oleh seorang pendusta ataupun lawan dalam perdebatan.

D. Nisbat: Relasi Ilmu Mantiq Dengan Ilmu Yang Lain
     Ilmu Mantiq memiliki relasi yang sangat penting dengan ilmu lain. Ketika seseorang paham secara mendalam tentang ilmu Mantiq ini, maka logikanya tidak pincang, juga kredibilitas keilmuannya bisa dipercaya. Maka dari itu, nisbat ilmu Mantiq ini adalah nisbat tasawi (sama, setara, sepadan) terhadap ilmu-ilmu seperti ilmu kalam, dan filsafat

E.  Keutamaan Ilmu Mantiq 
  Adapun keutamaan ilmu ini ketika ditinjau dari manfaat mempelajarinya yaitu menjaga akal kita dari kekeliruan dan bagaimana cara kita menggunakan akal kita sebaik mungkin, karena tanpa akal seseorang tidak akan dibebani dengan hukum taklif dari Allah. 

F.  Pencetus Ilmu Mantiq
    Dalam pembahasan ini, sama sekali tidak ditemukan siapa pertama kali pencetus ilmu Mantiq. Namun ada yang mengatakan bahwa ilmu Mantiq pertama kali ditemukan pada masa peradaban Hindia Kuno pada abad ke-3 SM, baik dengan menggunakan  metode “penemuan yang ditemukan oleh penganut hindu”, maupun dengan metode “mempertemukan antara peradaban hindia dan yunani”. Kemudian pada abad ke-8 SM, peradaban tersebut diajarkan di suatu Sekolah Hindia yang dinamakan dengan samkihia. Ada juga yan mengatakan; bahwa ilmu Mantiq pertama kali ditemukan pada masa peradaban Cina kuno pada abad ke-6 SM. Dalam masa ini ilmu Mantiq dapat ditemukan dalam karikatur karangan Confocius. Dia adalah filsuf cina  pertama yang mengkolaborasikan antara ajaran social science dan moral science. Hasil pemikirannya memiliki pengaruh yang besar dalam kemajuan masyarakat asia, mulai dari Cina, Jepang, Korea, Taiwan, dan Vietnam, sampai akhirnya dia dijuluki ”nabinya Cina”. Kemudian kita beranjak ke peradaban Yunani, di mana pada masa itu penduduk Athena menggunakan ilmu Mantiq sebagai pelindung, karena pada masa itu mereka mengalami krisis ilmu dan krisis orang yang cerdas. Akhirnya mereka menggunakan metode munaqosyah & jadal (debat/diskusi). Pada paruh kedua abad ke-5 SM, penduduk Athena dijajah oleh kelompok yang suka memutar balikan kenyataan, dan suka meragukan dalam hal apapun, sebut saja kelompok itu dengan kaum Sofis (penganut paham Sofisme), kelompok yang dikenal  dengan kedalaman dalilnya ketika berorasi, dan kemampuannya ketika berdiskusi. Tapi tujuan mereka bukan mencari kebenaran, melainkan menggelincirkan kebenaran, memutar balikan keyataan, dan menjatuhkan lawan diskusi. Hal ini berlangsung sampai pada masa Socrates, di mana dalam perdebatan dia menggunakan metode Tahakkum (menyindir lawan diskusi) dan Taulid (membangkitkan perdebatan dengan argumen yang lebih menantang). Sedangkan dalam metode mengajar, dia menggunakan metode ‘Tanya-Jawab’.  Pada masanya, Socrates mampu mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara berpikir yang benar, mampu menjauhkan  mereka dari pola pikir yang salah. Suatu ketika, terjadi perdebatan antara Socrates dan kaum Sofis, mereka mengunakan metode Isytiroku Al-Alfadz (menggabungkan sutau lafaz dengan lafaz yang lain), dan metode tersebut sangat memancing Socrates untuk berargumen. Akhirnya dia berkata: ”aturlah lafaz - lafazmu”. Dari sana Socrates mulai memberikan penjelasan tentang Takrif/Definisi, yang mana berkat takrif tersebut semua masalah akan terungkap dengan sempurna. Kemudian dia berkata bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki hakikat/substansi yang mampu dijangkau oleh akal dengan melihat sifat-sifatnya yang terjangkau oleh panca indra manusia. Dalam meneliti substansi tersebut, Socrates menggunakan metode Istiqro’ (observasi, penelitian) dengan tujuan untuk membedakan antara kebaikan dan kejelekan, ketakwaan dan kezaliman, dll. Berkat metode takrif dan penilitian tadi, Socrates dijuluki sebagai ‘orang pertama yang menggunakan metode Takrif dan Istiqro’. Maka bisa diambil kesimpulan bahwa; penemu ilmu Mantiq pertama kali adalah Socrates

G. Sebab Penamaan Ilmu Mantiq
 Muhammad Ali Al-Tahawuni pernah mengungkapkan beberapa sebab kenapa ilmu ini dinamakan dengan ilmu Mantiq. Penamaan tersebut dikarenakan lafaz Al-Nuthqu diterjemahkan sebagai sebuah lafaz atau ucapan, juga memahami segala sesuatu yang besifat universal. Di samping itu, lafaz Al-Nuthqu ini diambil dari kata Natoqo yang diterjemahkan sebagai kegiatan berpikir. Dan karena akal manusia mampu memikirkan sesuatu, maka karena itulah ilmu ini – yang diambi dari kata Natoqo – dinamakan dengan ilmu Mantiq, yakni ilmu tentang mengatur tata cara berpikir manusia supaya tidak salah berpikir.

H. Istimdad: pengambilan intisari ilmu Mantiq
   Pada awalnya ilmu ini menggunakan bahasa yunani. Kemudian diterjemehkan ke dalam bahasa arab oleh Abdullah bin Muqoffa’ pada masa pemerintahan Abul Ja’far Al-manshur dinasti Abbasiyyah. Literatur yang diterjemahkan adalah manuskrip-manuskrip karangan Aristoteles, mulai dari Cotingorias/Categories (makalah dalam ilmu Mantiq), Bariarminas (ungkapan dalam ilmu Mantiq), dan Antologies (Qiyas dan Burhan)

I. Hukum Mempelajari Ilmu Mantiq
  Dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Ada 3 pendapat, yaitu:
1. Larangan untuk mempelajari ilmu Mantiq secara mutlak. Ini adalah pendapat imam Ibnu sholah dan imam Nawawi. Namun, yan dimaksud dilarang ini adalah haram mempelajari ilmu Mantiq yang tercampur dengan kajian-kajian filsafat yunani yang bisa mengantarkan kita pada kekafiran. Adapun mempelajari ilmu Mantiq yang terbebas dari filsafat yang menyesatkan dan ditujukan untuk memperkuat akidah kita, maka itu diperbolehkan – termasuk kategori fardu kifayah -.
2. Boleh mempelajari ilmu Mantiq bagi orang yang sudah sempurna akalnya (cerdas), ini pendapat imam Ghozali. Karena imam Ghozali ini berpendapat bahwa orang yang tidak bisa ilmu Mantiq maka kredibilitas keilmuannya tidak bisa dipercaya.
3. Pendapat yang paling masyhur dan pendapat yang mukhtar adalah jika yang mempelajari ilmu mantiq adalah orang yang cerdas, dan dalam hidupnya dia telah terbiasa dengan mengkaji kandungan Alquran dan hadis, maka orang ini boleh mempelajarinya.

Adapun yang dilakukan Al-Azhar adalah mengajarkan ilmu Mantiq ini kepada anak didiknya. Karena Al-Azhar bertujuan untuk mencetak generasi penerus ulama yang mampu membantah syubhat-syubhat yang dilemparkan oleh siapapun, baik itu kaum orientaslis, ekstrimis, teroris, dan sebagainya. Karena itu, Al-Azhar memegang teguh pada pendapat yang pertama dan menghukuminya sebagai fardu kifayah.

J. Topik Pembahasan Dalam Ilmu Mantiq 
 Dalam pembahasannya, ilmu Mantiq menitikberatkan kepada 2 pembahasan; yakni tashowwuri (deskriptif) dan tashdiqi (definitif).




Comments

Popular posts from this blog

Apa Makna Sifat Wahdaniyah?

Sifat wahdaniyah merupakan salah satu sifat Salbiyah dari sifat-sifat wajib Allah. Sifat salbiyyah yaitu: هي الصفات التي تنفي عن الله ما لا يليق بذاته تعالى "Sifat-sifat yang menafikan dari Allah segala sifat yang tidak layak pada Dzat-Nya" Maka sifat wahdaniyah adalah sifat yang menafikan at-ta'ddud (berbilang-bilang), baik itu berbilang dalam dzat (at-ta'addud fî ad-dzât), berbilang dalam sifat (at-ta'addud fî ash-shifât) dan berbilang pada perbuatan (at-ta'addud fî al-af'âl). Adapun rinciannya sebagai berikut: 1.Keesaan Dzat (Wahdah ad-Dzât), ada dua macam: a.Nafyu al-Kamm al-Muttashil (menafikan ketersusunan internal) Artinya, bahwa dzat Allah tidak tersusun dari partikel apapun, baik itu jauhar mutahayyiz, 'ardh ataupun jism. Dalil rasional: "Jikalau suatu dzat tersusun dari bagian-bagian, artinya dzat itu membutuhkan kepada dzat yang membentuknya. Sedangkan Allah mustahil membutuhkan pada suatu apapun. Maka mustahil Dzat Allah tersusun dari bagian.…

10 Prinsip Dasar Ilmu Tauhid

A. Al-Hadd: Definisi Ilmu Tauhid Ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang bisa meneguhkan dan menguatkan keyakinan dalam beragama seorang hamba. Juga bisa dikatakan, ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang membahas jalan dan metode yang bisa mengantarkan kita kepada keyakinan tersebut, melalui hujjah (argumentasi) untuk mempertahankannya. Dan juga ilmu tentang cara menjawab keraguan-keraguan yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan menghancurkan agama Islam itu sendiri.
B. Maudhu’: Objek Pembahasan Ilmu Tauhid Ada beberapa pembahasan yang dijelaskan dalam ilmu ini, mulai dari pembahasan `maujud` (entitas, sesuatu yang ada), `ma’dum` (sesuatu yang tidak ada), sampai pembahasan tentang sesuatu yang bisa menguatkan keyakinan seorang muslim, melalui metode nadzori (rasionalitas) dan metode ilmi (mengetahui esensi ilmu tauhid), serta metode bagaimana caranya kita supaya mampu memberikan argumentasi untuk mempertahankan keyakinan tersebut. Ketika membahas entitas, kita bisa menege…