Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Ibrahim al-Hudhud, Mantan Rektor yang Tidak Ambisi Jabatan

WEEKLY PROFILE KE-21 PROF. DR. IBRAHIM SHALAH AL-HUDHUD ------------------------------- Pada Weekly Profile ke-14 lalu, SEMA-FU mengangkat profil tokoh legendaris al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Abu Musa , pakar sastra Arab terkemuka dan juru kunci pusaka-pusaka Imam Abdul Qahir Al-Jurjani yang diestafeti dari gurunya al-'Allamah al-Muhaqqiq Syekh Mahmud Muhammad Syakir , murid terbaik dari sastrawan kawakan Mesir Syekh Musthafa Shadiq al-Rafi'i . Dalam produktifitas berkarya, Abu Musa tak hanya menukil rumusan-rumusan ilmu yang sudah ada. Dari penelitiannya, ia banyak menawarkan pemikiran baru yang luput (novelty) dari pembicaraan ulama balaghah masa lampau yang dikumpulkan dalam kitabnya "al-Mask ū t 'Anhu". Walaupun kini telah memasuki usia senja, sang pendidik hebat itu telah sukses melakukan regenerasi penerus estafet. Banyak dari murid-muridnya yang kini telah menjadi raksasa ilmu bahasa Arab, antara lain Prof. Dr. Ibrahim Sholah al-Hudhud , mantan

Menjalin Silaturahmi, Memperluas Relasi

                Kairo, Selasa (27/03/18). Program “Silaturahmi ke Kediaman Senior” kali ini memiliki nuansa berbeda. Pasalnya, kedatangan kami ke kediaman Ustaz Hamam Nasrullah, Lc beserta istri Ustazah Fiat Suryani, langsung disambut oleh kehadiran dua buah hati kembar mereka yang bernama Aisyah Jehan as-Shafa dan Aisyah Syehan al-Marwa. Dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan kami mengucapkan Tahniah dan doa semoga Shafa dan Marwa kelak tumbuh menjadi anak yang shalehah dan berbakti kepada orang tua. Âmîn .                   Kak Hammam –sapaan akrab dari kami adalah salah satu senior yang saat ini tengah menempuh S2 di Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir. Selain sebagai senior di kuliah, beliau juga merupakan DK (Dewan Konsultatif) Senat Mahasiswa Fakuktas Ushuluddin. Sehingga bagi kami, beliau sudah seperti kakak kandung yang sedang membimbing adik-adiknya dalam belajar dan berorganisasi.                 Sebagai DK yang sebelumnya pernah merasakan indahnya berkhidmah di se

Mengenal Dukturah Lawahez: Kolaborasi Sosok Ibu dan Dosen yang Penyayang

Weekly Profile ke-20 Dr. Lawahez Abd el-Salam 'Aly --------------------------------------------- Dr. Lawahez Abd el-Salam 'Aly Lahir di kota Suez pada tanggal 13 September 1959. Beliau mengenyam pendidikan menengah di sekolah negeri khusus putri di Suez, yang mana merupakan sekolah umum. Setelah lulus pada tahun 1978, beliau diterima sebagai mahasiswa di Universitas al-Azhar Fakultas Dirasat Islamiyah jurusan Ushuluddin. Telah menjadi kewajiban bagi lulusan sekolah umum saat itu jika ingin kuliah di al-Azhar untuk menjalani satu tahun pertama di Dirasah Ta'hil , agar mendapat ijazah mu'adalah dan pembekalan yang setara dengan Ma'had atau sekolah agama. Angkatan beliau merupakan generasi terakhir dirasah ta'hil diterapkan, karena setelahnya lulusan sekolah umum tidak lagi diterima di Fakultas Dirasat Islamiyah al-Azhar. Lima tahun kemudian beliau berhasil menjadi sarjana di bidang Akidah dan Filsafat pada tahun 1983 dengan predikat sangat baik. Ke

Hari Ibu Nasional Mesir, Begini Nasihat Prof. Muhammad Al-Anwar!

Prof. Dr. Muhammad Al-Anwar Dosen Mata Kuliah Tauhid Ketika menguraikan pembahasan hari kiamat dan tanda-tandanya, mulai dari lima tanda besar [1]  dan tanda-tanda kecilnya, Prof. Dr. Muhammad Al-Anwar menyebutkan dalil salah satu tanda kiamat shugra yang terdapat pada ujung Hadits Jibril: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا "(Salah satu tanda kiamat), ketika tiba saat di mana banyak budak perempuan melahirkan nyonyahnya." Guru besar Aqidah & Falsafah sepuh yang dahulu seangkatan dengan Grand Syekh Ahmad al-Thayyib itu menafsirkan kināyah dalam hadits tersebut: "Arti tanda yang disebutkan Nabi SAW ini, yaitu ketika banyak anak-anak perempuan setelah tumbuh besar memperlakukan ibu mereka seolah-olah seperti pembantunya." Tidak menghargai dan tidak memerhatikan sopan-santun kepada ibunya. Dosen hebat yang selalu masuk kelas tanpa membawa buku dan semua syarah keluar dari hafalannya dengan penguasaan komprehensif pada materi ilmu aqidah &am

Membongkar Kerancuan Pemikiran Kaum Radikal

[Salah Fatal dalam Memahami Sirah Nabawiyah] Oleh: Prof. Dr. Syauqi ‘Allam Alih bahasa: Tim Terjemah SEMA-FU Pendahuluan Satu hal yang perlu digarisbawahi dari tulisan-tulisan dan pandangan-pandangan kaum neo-Khawarij dan orang-orang yang berpemikiran radikal adalah bahwa mereka kerapkali menggunakan ayat-ayat al-Qur’an, hadis-hadis, dan sejarah Nabi sebagai landasan argumentasi. Padahal, sebagai teks wahyu, untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi dan berinteraksi dengan keduanya, dibutuhkan berbagai perangkat ilmiah. Dan, orang-orang radikalis ini sebenarnya—seperti yang telah saya ulas dalam artikel di edisi sebelumnya—sangat membutuhkan pe rangkat tersebut. Tak hanya itu, perangkat ilmiah tersebut sebenarnya juga sangat mereka butuhkan untuk memahami sirah nabawiyah [1] dan berbagai peristiwa penting (peperangan, misalnya) yang dialami Nabi serta para sahabat di Jazirah Arab kala itu. Dikatakan demikian, lantaran sirah nabawiyah tersebut dianggap sebagai

Weekly Profile ke-19 Dr. Hisyam al-Kamil Hamid Musa.

----------------------------------------------- Syekh  Hisyam al-Kamil Hamid as-Syâfi’i al-Azhary telah menyelesaikan gelar doktoralnya di Institut John Hever. Beliau merupakan penulis dan pensyarah sejumlah buku keislaman.  Syeikh penganut mazhab Syafi’i ini dikenal ramah dan sering menyelipkan candaan setiap kali menyampaikan darsnya. Bahkan beliau Banyak membuka halaqah-halaqah ilmu dan semuanya tidak dipungut biaya, siapa pun boleh mengikutinya. Ciri khas yang selalu kita dapatkan jika kita mengikuti darsnya; beliau selalu mengajak para muridnya untuk mengawali talaqqi dengan sholawat syafi’iyah ‘ala khoir al-bariyah. Ciri khas lain dari beliau adalah, selalu mengulang-ulang perihal istiqomah, entah itu istiqomah tentang membaca kitab yang sedang dikaji, tentang ibadah, maupun lainnya, agar para murid selalu ingat betapa pentingnya sebuah istiqomah dalam menuntut ilmu. Pendidikan formal beliau ditempuh di Universitas Al-Azhar dan merampungkan jenjang strata 1 Fa

Weekly Profile ke-18 Prof. Dr. Jamal Faruq Jibril Mahmud al-Daqqaq

----------------------------------------------- Rasanya, nama beliau di telinga para mahasiswa Al-Azhar begitu familiar. Benar saja, beliau merupakan kepala Departemen Da’wah & Tsaqafah Universitas Al-Azhar, Kairo. Di balik kedudukannya saat ini, jalan terjal nan panjang pernah beliau lalui kala menempuh rihlah ‘ilmiyyahnya dalam menuntut ilmu. Saat kecil, beliau dibina oleh Syeikh Muhammad Mansur untuk menghafal Alquran di Farshout, sebuah kota yang terletak di provinsi Qena, Mesir, tak hanya menghafal, beliau pun telah rampung menyelesaikan 10 Qira'at di bawah bimbingan Syekh Abdul Hakim Abdul Latief dan telah diijazahkan langsung oleh sang guru. Dilanjutkan dengan menempuh pendidikan formal tingkat dasar, menengah dan tinggi di Madrasah Al-Azhar, Farshout. Tak sampai situ, kegigihannya dalam menuntut ilmu semakin terlihat ketika beliau melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, tak tanggung-tanggung, gelar Doktor beliau gaet dari Universitas yang menjadi baromete

Pelatihan Terjemah SEMA-FU, Hari Pertama Sukses!

Kairo-, Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin bekerja-sama dengan PPMI Mesir atas dukungan KBRI Kairo sukses menjalankan pertemuan pertama Pelatihan Terjemah Intensif, Jumat 9 Maret 2018 bertempat di Aula KM-NTB Mesir. Sesi pengantar dirancang berlangsung selama dua hari berturut-turut, selanjutnya diikuti follow-up pertemuan rutin mingguan. Acara ini dihadiri 30 peserta sesuai batas kuota, mempertimbangkan efektifitas. Panitia acara mengundang Ustadz M. Abdul Rauf, Lc., Grad. Dipl, senior yang sudah kenyang pengalaman dalam dunia penerjemahan, yang kini menjadi praktisi terjemah dan editor pada Keira Publishing. Pada pertemuan pertama, Cak Rouf, sapaan akrab tutor mengapresiasi semangat panitia penyelenggara atas inisiasi kegiatan ini. Walaupun di satu sisi, mensinyalir potret intelektual pelajar masisir yang di ambang krisis terhadap kemampuan yang bisa ditekuni secara ototidak. "Tapi selagi di Kairo, mari kita lampiaskan semua kekurangan-kekurangan untuk kita reduksi,

Reinterpretasi Nilai Turats, Al-Azhar Gelar Muktamar Internasional

                             SEMA-FU. Pesatnya perkembangan dinamika sosial masyarakat modern, serta kemajuan sains dan teknologi—terutama di Barat, mengundang banyak respon dari para cendikiawan guna berinovasi dan mengejar ketertinggalan. Wacana at-tajdid (rekonstruksi) pun dipiih sebagai salah satu metode, guna mereaktualisasikan kembali kandungan ajaran Islam. At-Turats al-Islami pun tak ketinggalan menjadi salah satu lahan empuk guna menanam bibit-bibit rekonstruksi.                 Namun dalam perkembangannya, at-tajdid acapkali malah menimbulkan problematika baru. Karena banyak diemban oleh mereka yang notabennya belum memahami turats —bahkan sebagian merupakan kalangan orientalis— secara matang. Dari sini, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar pun mengadakan Muktamar Internasional Perdana dengan tema "Pembacaan Turats Keislaman; antara Keontetikan Pemahaman dan Ambiguitas" yang telah diselenggarakan pada 8-9 Maret 2018, di auditorium Al-Azhar Conferet

Kemenangan dalam Ranah Wanita

Oleh : Cici Purwati ”If you educate a woman, you educate a family. If you educate a girl, you educate the future.” _Queen Rania of Jordan_ S ejarah mencatat bahwa perkembangan suatu negara sangat bergantung pada seberapa besar kontribusi wanita dalam negara tersebut. Faktanya, wanita memiliki andil yang begitu besar. Wanitalah yang menjadi madrasah pertama sekaligus aktor utama dalam membentuk suatu bangsa—bahkan negara, lewat pola pikir yang ia tanamkan pada generasi muda dalam keluarganya. Oleh karena itu, bagaimana suatu negara dapat maju apabila wanitanya—sebagai madrasah pertama—tidak memikirkan pendidikan keluarganya. Seperti halnya, mereka yang hanya fokus terhadap urusan yang bersifat sekunder. Tidakkah sadar bahwa wanita sudah dimuliakan sedemikian rupa dalam Islam maupun di mata dunia?! Tidak sedikit wanita yang masih berpikiran bahwa ia adalah makhluk lemah yang hanya berurusan dengan alat-alat rumah tangga, hanya berfungsi sebagai