Skip to main content

Kelas Pelatihan Fatwa, Dr. Mukhtar Muhsin: Mufti Ibarat Seorang Dokter

     ushuluddin.com, Kairo – Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin(SEMA-FU) bekerja sama dengan Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB) Mesir adakan Kelas PelatihanFatwa dengan tema “An-Nadwah, Al-Fatwa; Arkanuha waManahijuha” pada Sabtu (26/11) di Aula Pasanggrahan KPMJB, Hay Asyir.

   Acara dimulai sekitar pukul 13.30 CLT, dibuka oleh Saudara Hamzah Assad Abdul Jabar selaku pembawa acara, lalu disambung dengan pembacaan ayat suci alquran oleh Saudara Jajang Nurzaman. Acara lalu dilanjutkan dengan penyampaian sambutan oleh perwakilan dari PPMI Mesir, Saudara Khalilurrahman Zubaidi, Novian Nuzul Faza selaku Ketua SEMA-FU, lalu Saudara Mahmud Abdullah selaku Gubernur KPMJB. Setelah itu, acara diambil alih oleh Ustaz FalahuddinNur Halim, Lc., Dipl. Selaku moderator.

     Pelatihan Fatwa tersebut diisi langsung oleh Amin Fatwa DarulIfta Mesir, Dr. Mukhtar Muhsin. Penyampaian beliau sangat bagus. Banyak maklumat yang didapat oleh para peserta pelatihan fatwa tersebut. "Fatwa itu ibarat seperti obat, dan seorang mufti itu diibaratkan seperti dokter," ujar beliau.

     Penyampaian materi berlangsung hingga pukul 16.30 CLT. Setelah melaksanakan salat asar berjemaah, acara dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab, lalu disambung dengan penyerahan cendera mata untuk Dr. Mukhtar Muhsin dan Ustaz FalahuddinNur Halim.

     Acara diakhiri dengan doa, lalu langsung ditutup oleh pembawa acara. Pelatihan Fatwa ini dihadiri kurang lebih 40 peserta yang terdiri dari berbagai fakultas. 

Oleh: Alif Rafdi


Comments

Popular posts from this blog

Apa Makna Sifat Wahdaniyah?

Sifat wahdaniyah merupakan salah satu sifat Salbiyah dari sifat-sifat wajib Allah. Sifat salbiyyah yaitu: هي الصفات التي تنفي عن الله ما لا يليق بذاته تعالى "Sifat-sifat yang menafikan dari Allah segala sifat yang tidak layak pada Dzat-Nya" Maka sifat wahdaniyah adalah sifat yang menafikan at-ta'ddud (berbilang-bilang), baik itu berbilang dalam dzat (at-ta'addud fî ad-dzât), berbilang dalam sifat (at-ta'addud fî ash-shifât) dan berbilang pada perbuatan (at-ta'addud fî al-af'âl). Adapun rinciannya sebagai berikut: 1.Keesaan Dzat (Wahdah ad-Dzât), ada dua macam: a.Nafyu al-Kamm al-Muttashil (menafikan ketersusunan internal) Artinya, bahwa dzat Allah tidak tersusun dari partikel apapun, baik itu jauhar mutahayyiz, 'ardh ataupun jism. Dalil rasional: "Jikalau suatu dzat tersusun dari bagian-bagian, artinya dzat itu membutuhkan kepada dzat yang membentuknya. Sedangkan Allah mustahil membutuhkan pada suatu apapun. Maka mustahil Dzat Allah tersusun dari bagian.…

Eratkan Tali Persaudaraan, SEMA-FU Kunjungi Kediaman Hammam Nasrullah, Lc

ushuluddin.com, Kairo - Bagian Humas Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin mengadakan silaturahim ke kediaman Hamam Nasrullah, Lc di Darrosah. Acara yang diselenggarakan pada Selasa (5/11) pukul 15.00 CLT  ini merupakan salah satu program kerja Bagian Humas yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan sesama anggota senat dari beberapa periode juga sebagai wadah bertukar pengalaman dari beberapa senior.

     “Sibuk berorganisasi itu boleh, tapi jangan sampai prestasi akademik kita terbengkalai, dan jangan sampai hal itu membuat kalian menyesal”. Ujar Ketua Senat Fakultas Ushuluddin periode 2014-2015 tersebut mengawali bincang santai bersama anggota Humas kali ini.

     Tak lepas dari jabatannya sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin 14/15, Hammam Nasrullah, Lc menceritakan bagaimana perjalanan senat pada periode itu yang hanya berkecimpung pada pelaksanaan bimbingan belajar dan acara-acara akademik seperti bedah tesis dan disertasi saja. Selain itu masih banyak lag…

10 Prinsip Dasar Ilmu Mantiq

كل فن عشرة # الحد والموضوع ثم الثمرة ونسبة وفضله والواضع # والاسم الاستمداد حكم الشارع مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجميع حاز الشرفا
   Dalam memahami suatu permasalahan, terkadang kita mengalami kekeliruan/salah paham, karena pada tabiatnya akal manusia sangat terbatas dalam berpikir bahkan lemah dalam memahami esensi suatu permasalahan. Karena pola pikir manusia selamanya tidak berada pada jalur kebenaran. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seperangkat alat yang bisa menjaga pola pikirnya dari kekeliruan dan kesalahpahaman, serta membantunya dalam mengoperasikan daya pikirnya sebaik mungkin. Alat tersebut dinamakan dengan ilmu Mantiq. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengulas Mabadi ‘Asyaroh - 10 prinsip dasar -  ilmu Mantiq.
A.  Takrif: Definisi Ilmu Mantiq      Ditinjau dari aspek pembahasannya, ilmu Mantiq adalah ilmu yang membahas tentang maklumat – pengetahuan - yang bersifat tashowwuri (deskriptif) dan pengetahuan yang besifat tashdiqi (definitif). Berkat dua …