Skip to main content

Mengenal Ilmu Akhlak Secara Teoritis



Oleh: Nailul Wirdah

    Setiap manusia diharuskan berakhlak, supaya bisa hidup tentram dengan sesama. Namun pada praktiknya, nilai-nilai manusia dikatakan berakhlak apa tidak tergantung masyarakat yang melingkupinya. Sehingga praktik kehidupan yang berakhlak di setiap masyarakat sangat nisbi. Kemungkinan yang terjadi adalah, disiplin ilmu akhlak kurang mendapat perhatian yang serius dari masyarakat kita. Dalam tulisan ini, saya tidak akan menyinggung banyak Akhlak secara praktis, namun lebih ke Akhlak secara teoritis (Akhlak Falsafi) dan hubungannya dengan Akhlak yang ada dalam agama Islam.

    Pembahasan akhlak secara teoritis ini, saya mulai dari pengetian, hubungan akhlak Falsafi ini dengan akhlak dalam agama Islam, sumber-sumber yang mewajibkan, dan pendapat-pendapat para sarjanawan yang menguraikan teori akhlak ini.

Pengertian Akhlak
    Akhlak merupakan sebuah sikap yang terdapat pada diri manusia, yang sekumpulan sikap ini bisa melahirkan berbagai bentuk perbuatan dengan mudah yang mengarah kepada kebaikan. Adapun perbuatan yang dilakukan manusia karena paksaan, bukan yang dimaksud di sini. Karena akhlak sendiri identik dengan perbuatan yang muncul dari manusia dengan mudah, bukan dengan paksaan. Sedangkan pengertian agama secara mendasar adalah mengetahui Dzat yang Maha Esa serta mengagungkanNya.
Pada pengertian agama tersebut, satu hal yang perlu saya tekankan adalah mengagungkan dzat yang maha Esa. Untuk mengagungkanNya, manusia memerlukan sesuatu yang bisa membuatnya tunduk, yaitu Akhlak. Dengan demikian, agama yang dianut manusia, akan menjadi agama yang sesungguhnya. Adanya unsur tunduknya seorang hamba kepadaNya, terciptalah hubungan antara Tuhan dan Makhluk.

   Imam Ghazali menegaskan, bahwa manusia mempunyai tiga hal yang bisa digunakan untuk menghakimi dirinya sendiri: Indra, khayalan, dan akal. Akal di sini mempunyai peranan yang seimbang dengan insting untuk mewajibkan manusia berakhlak. Kaitan yang erat antara akhlak dan akal yang sehat menghasilkan sebuah konklusi bahwa manusia wajib berakhlak supaya bisa tunduk di hadapanNya.

    Hubungan Antara Akhlak dan Akidah
Akhlak secara teoritis memiliki hubungan yang kuat dengan akidah. Dr. Ilham Syahin, sarjanawan fakultas Dakwah Universitas Al-Azhar mengatakan bahwa Akidah (samawi) yang mempunyai pondasi yang kokoh merupakan sumber terwujudnya akhlak yang kokoh pula. Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa sumber terwujudnya perilaku yang baik berasal akidah yang kokoh. Komponen akidah dan akhlak yang lurus bisa mengantarkan manusia menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Lain halnya, jika pandangan terkait akhlak Falsafi ini dihubungkan dengan akidah yang non-samawi, maka yang terjadi adalah sebuah kesimpulan tidak adanya hubungan antara akhlak dan agama. Sebagaimana kata Immanuel Kant: “kita tidak mempunyai hak-hak yang berhubungan dengan dzat yang maha tinggi, maka dari itu kita tidak punya kewajiban untuk menunaikan amalan-amalan yang berkaitan dengan dzat yang memiliki keistimewaan tersebut.”

    Pernyataan Immanuel Kant tersebut, ditolak oleh Dr. Toha Hubaisy. Beliau mengatakan bahwa agama yang di jadikan pijakan oleh Kant adalah agama non-samawi, dimana agama non-samawi ini tidak mempunyai unsur ke-Ilahi-an sebagaimana yang dimiliki oleh agama samawi. Sehingga Kant dengan mudah mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kewajiban kepada dzat yang lebih tinggi, karena tuhan mereka mempunyai status yang berbeda ketuhanannya dengan agama samawi.
Sumber- Sumber yang Mewajibkan Manusia Berakhlak.

    Seorang filsuf Perancis, Henri Bergson mengatakan bahwa sumber yang mewajibkan manusia supaya berakhlak murni dari unsur perasaan belaka. Pernyataan ini juga ditolak oleh Dr. Toha Hubaisy, beliau mengatakan bahwa, “akal lebih layak untuk mewajibkan manusia berakhlak, dari pada perasaan dan insting belaka.” Kembali ke pernyataan awal, sebagaimana yang saya bahas diatas, bahwa komponen yang membentuk manusia untuk berakal adalah hati (perasaan, insting) dan juga akal.
Selain itu, sumber- sumber agama juga mewajibkan kita untuk berakhlak kepada manusia. Di dalam al-Quran Allah berfirman: “Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” Selain itu, kita juga punya Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kita dalam berakhlak sehari-hari.

   
Inti dari akhlak secara teoritis ini, kita akan mengenal pengertian akhlak itu sendiri, kemudian hubungannya dengan Akidah yang ternyata sangat kuat, sehingga manusia tidak punya alasan lagi untuk tidak berakhlak. Pembahasan mengenai akhlak secara teoritis ini, sebenarnya masih sangat luas, karena ia merupakan bagian dari akhlak falsafi yang mempunyai hubungan erat dengan manusia. Objek pembahasan yang luas ini, juga dikarenakan luasnya perbuatan manusia yang dikaji.
Wallahu a’lam bissowab......

Comments

Popular posts from this blog

Apa Makna Sifat Wahdaniyah?

Sifat wahdaniyah merupakan salah satu sifat Salbiyah dari sifat-sifat wajib Allah. Sifat salbiyyah yaitu: هي الصفات التي تنفي عن الله ما لا يليق بذاته تعالى "Sifat-sifat yang menafikan dari Allah segala sifat yang tidak layak pada Dzat-Nya" Maka sifat wahdaniyah adalah sifat yang menafikan at-ta'ddud (berbilang-bilang), baik itu berbilang dalam dzat (at-ta'addud fî ad-dzât), berbilang dalam sifat (at-ta'addud fî ash-shifât) dan berbilang pada perbuatan (at-ta'addud fî al-af'âl). Adapun rinciannya sebagai berikut: 1.Keesaan Dzat (Wahdah ad-Dzât), ada dua macam: a.Nafyu al-Kamm al-Muttashil (menafikan ketersusunan internal) Artinya, bahwa dzat Allah tidak tersusun dari partikel apapun, baik itu jauhar mutahayyiz, 'ardh ataupun jism. Dalil rasional: "Jikalau suatu dzat tersusun dari bagian-bagian, artinya dzat itu membutuhkan kepada dzat yang membentuknya. Sedangkan Allah mustahil membutuhkan pada suatu apapun. Maka mustahil Dzat Allah tersusun dari bagian.…

10 Prinsip Dasar Ilmu Tauhid

A. Al-Hadd: Definisi Ilmu Tauhid Ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang bisa meneguhkan dan menguatkan keyakinan dalam beragama seorang hamba. Juga bisa dikatakan, ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang membahas jalan dan metode yang bisa mengantarkan kita kepada keyakinan tersebut, melalui hujjah (argumentasi) untuk mempertahankannya. Dan juga ilmu tentang cara menjawab keraguan-keraguan yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan menghancurkan agama Islam itu sendiri.
B. Maudhu’: Objek Pembahasan Ilmu Tauhid Ada beberapa pembahasan yang dijelaskan dalam ilmu ini, mulai dari pembahasan `maujud` (entitas, sesuatu yang ada), `ma’dum` (sesuatu yang tidak ada), sampai pembahasan tentang sesuatu yang bisa menguatkan keyakinan seorang muslim, melalui metode nadzori (rasionalitas) dan metode ilmi (mengetahui esensi ilmu tauhid), serta metode bagaimana caranya kita supaya mampu memberikan argumentasi untuk mempertahankan keyakinan tersebut. Ketika membahas entitas, kita bisa menege…

10 Prinsip Dasar Ilmu Mantiq

كل فن عشرة # الحد والموضوع ثم الثمرة ونسبة وفضله والواضع # والاسم الاستمداد حكم الشارع مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجميع حاز الشرفا
   Dalam memahami suatu permasalahan, terkadang kita mengalami kekeliruan/salah paham, karena pada tabiatnya akal manusia sangat terbatas dalam berpikir bahkan lemah dalam memahami esensi suatu permasalahan. Karena pola pikir manusia selamanya tidak berada pada jalur kebenaran. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seperangkat alat yang bisa menjaga pola pikirnya dari kekeliruan dan kesalahpahaman, serta membantunya dalam mengoperasikan daya pikirnya sebaik mungkin. Alat tersebut dinamakan dengan ilmu Mantiq. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengulas Mabadi ‘Asyaroh - 10 prinsip dasar -  ilmu Mantiq.
A.  Takrif: Definisi Ilmu Mantiq      Ditinjau dari aspek pembahasannya, ilmu Mantiq adalah ilmu yang membahas tentang maklumat – pengetahuan - yang bersifat tashowwuri (deskriptif) dan pengetahuan yang besifat tashdiqi (definitif). Berkat dua …