Skip to main content

Dengan kitab yang masih berbentuk manuskrip sebagai materi sidang tesisnya, M. Hanif Amrullah, Lc. M.A. habiskan 1.160 halaman tesis

Kairo - Tepukan para hadirin memenuhi ruangan setelah Prof. Dr. Abdul Hamid menyatakan bahwa hasil tesis Ust. Muhammad Hanif Amrullah jurusan Hadis dan Ulumul Hadis mencapai predikat Mumtaz. Sidang tersebut dilaksanakan pada Rabu (09/10), yang bertempat di Auditorium Imam Adz-Dzahabi, Fakultas Ushuluddin Banin, Universitas Al-Azhar, El Darb El Ahmar, Kairo.

Alhamdulillah, setelah memakan waktu dua sampai dua setengah tahun penulisan, pemuda asal Lamongan, Jawa Timur itu telah merampungkan tesisnya yang berjudul:

‏زيادة الجامع جميع الصغير من حديث البشير النذير للحافظ جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر محمد الخضيري السيوطي الشافعي (ت ٩١١ ه ) من ‏أول حديث (إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر ‏: فإن رأى في نعليه قذرًا أو أذى فليمسحه، وليصل فيهما) إلى الحديث : (إذا قال الإمام سمع الله لمن حمده فقولوا: اللهم ربنا لك الحمد، فإنه من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه) ‏تخريج ودراسة تعليق 

Takhrij, Studi dan Komentar terhadap Hadis-Hadis di Kitab Ziyadat Al-Jami' Ash-Shaghir Karya Imam Al-Hafidz Jalaluddin Al-Suyuthi.

Tesis yang memiliki jumlah halaman sebanyak 1.160 itu berhasil Ust. Hanif pertahankan di hadapan Prof. Dr. Imad As Sayyid Muhammad Asy Syirbini; Profesor dan Kepala Departemen Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Ushuluddin Kairo sebagai Pembimbing Utama, Dr. Ahmad Rizq Darwisy; Dosen Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Ushuluddin Kairo sebagai Pembimbing Pendamping Prof. Dr. Ahmad Mahmud Ahmad Syimi, Profesor Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Ushuluddin Zaqaziq sebagai Pendebat Eksternal, dan Prof. Dr. Abdul Hamid Muhammad Ahmad Al Ibath; Profesor Pendamping Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Ushuluddin Kairo sebagai Pendebat Internal selama tiga jam meskipun perdebatan berlangsung sedikit alot.

Ziyadat Al-Jami' Ash-Shaghir, kitab yang dijadikan sumber tesis beliau merupakan salah satu bagian dari ensiklopedia hadis yang dikarang oleh Imam As-Suyuthi bersama dua kitab sebelumnya, Al-Jami' Al-Kabir dan Al-Jami' Ash-Shaghir.

Mahasiswa kedatangan tahun 2010 itu memilih kitab tersebut sebagai materi tesis dengan alasan belum adanya kajian mendalam terhadapnya, berbeda dengan dua kitabnya terdahulu. Hal itu dikuatkan dengan bukti bahwa kitab tersebut masih berbentuk manuskrip dan belum dicetak dengan alat modern.

Alasan berikutnya adalah kekayaan dan beragamnya referensi yang dihadirkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam kitab tersebut, mulai dari kitab-kitab Shihah, Sunan, Masanid, dan Maajim. Selain itu, Imam yang merupakan mujadid abad kesembilan itu juga turut menghadirkan kitab-kitab hadis di zamannya yang tidak sampai ke kita hari ini. Seperti kitab Al-Fawaid karya Imam Tamam, Al-Tsawab karya Imam Abu Syaikh, Al-Ibanah karya Imam Al-Sijzi, dan lain-lain.

Menurut mahasiswa yang pernah aktif di ICMI Orsat Kairo itu, penulisan tesis ini mengasah kemampuan dalam men-takhrij hadis, dirasat asanid, dan memberikan hukum hadis sebagai bentuk praktik dari ilmu-ilmu hadis yg sudah dipelajari seperti ilmu musthalah hadits, al-jarh wa at-ta'dil, dan 'ilal al-hadits.

Adapun kesulitan yang dialaminya sebagai mahasiswa S2 saat menulis tesis yakni kurangnya pengalaman dalam bidang tulis-menulis. Kesulitan ini beliau hadapi dengan sering bertanya kepada senior, sharing dengan teman, dan juga memaksakan diri untuk mulai menulis.

Menurut penuturan beliau, jika sudah berhasil melewati hal tersebut, kesulitan berikutnya adalah konsisten dalam menulis. Terkadang, ketika menjumpai permasalahan yang rumit, perasaan menjadi jenuh dan terus ingin beristirahat.

Cara mengatasinya adalah dengan tetap menjaga mood untuk menulis dan melewati sejenak masalah yang membutuhkan waktu lebih, supaya penulisan tetap berjalan dan tidak mengalami stagnasi. Selain itu, mendengarkan motivasi dari orang tua dan dosen pembimbing juga menambah semangat untuk menulis.

Terakhir, pesan Hanif untuk Sobat Ushuluddin yang ingin melanjutkan studinya di Jurusan Hadis adalah hendaknya membekali diri dengan ilmu mustholahul hadits, juga ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah dan lain-lain.

 

“Belajar hadis merupakan syaraf (kehormatan) karena apa yang kita pelajari bersumber dari Sayyidina Rasulullah. tutup beliau.

 

(Nahwa Haya Aghniarizka)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Makna Sifat Wahdaniyah?

Sifat wahdaniyah merupakan salah satu sifat Salbiyah dari sifat-sifat wajib Allah. Sifat salbiyyah yaitu: هي الصفات التي تنفي عن الله ما لا يليق بذاته تعالى "Sifat-sifat yang menafikan dari Allah segala sifat yang tidak layak pada Dzat-Nya" Maka sifat wahdaniyah adalah sifat yang menafikan at-ta'ddud (berbilang-bilang), baik itu berbilang dalam dzat (at-ta'addud fî ad-dzât), berbilang dalam sifat (at-ta'addud fî ash-shifât) dan berbilang pada perbuatan (at-ta'addud fî al-af'âl). Adapun rinciannya sebagai berikut: 1.        Keesaan Dzat (Wahdah ad-Dzât) , ada dua macam: a.        Nafyu al-Kamm al-Muttashil (menafikan ketersusunan internal) Artinya, bahwa dzat Allah tidak tersusun dari partikel apapun, baik itu jauhar mutahayyiz, 'ardh ataupun jism. Dalil rasional: "Jikalau suatu dzat tersusun dari bagian-bagian, artinya dzat itu membutuhkan kepada dzat yang membentuknya. Sedangkan Allah mustahil membutuhkan pada suatu apapun. Ma

10 Prinsip Dasar Ilmu Tauhid

A. Al-Hadd: Definisi Ilmu Tauhid Ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang bisa meneguhkan dan menguatkan keyakinan dalam beragama seorang hamba. Juga bisa dikatakan, ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang membahas jalan dan metode yang bisa mengantarkan kita kepada keyakinan tersebut, melalui hujjah (argumentasi) untuk mempertahankannya. Dan juga ilmu tentang cara menjawab keraguan-keraguan yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan menghancurkan agama Islam itu sendiri. B. Maudhu’: Objek Pembahasan Ilmu Tauhid Ada beberapa pembahasan yang dijelaskan dalam ilmu ini, mulai dari pembahasan `maujud` (entitas, sesuatu yang ada), `ma’dum` (sesuatu yang tidak ada), sampai pembahasan tentang sesuatu yang bisa menguatkan keyakinan seorang muslim, melalui metode nadzori (rasionalitas) dan metode ilmi (mengetahui esensi ilmu tauhid), serta metode bagaimana caranya kita supaya mampu memberikan argumentasi untuk mempertahankan keyakinan tersebut. Ketika membahas ent

10 Prinsip Dasar Ilmu Mantiq

 كل فن عشرة # الحد والموضوع ثم الثمرة ونسبة وفضله والواضع # والاسم الاستمداد حكم الشارع مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجميع حاز الشرفا      Dalam memahami suatu permasalahan, terkadang kita mengalami kekeliruan/salah paham, karena pada tabiatnya akal manusia sangat terbatas dalam berpikir bahkan lemah dalam memahami esensi suatu permasalahan. Karena pola pikir manusia selamanya tidak berada pada jalur kebenaran. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seperangkat alat yang bisa menjaga pola pikirnya dari kekeliruan dan kesalahpahaman, serta membantunya dalam mengoperasikan daya pikirnya sebaik mungkin. Alat tersebut dinamakan dengan ilmu Mantiq. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengulas Mabadi ‘Asyaroh - 10 prinsip dasar -  ilmu Mantiq. A.  Takrif: Definisi Ilmu Mantiq      Ditinjau dari aspek pembahasannya, ilmu Mantiq adalah ilmu yang membahas tentang maklumat – pengetahuan - yang bersifat tashowwuri (deskriptif) dan pengetahuan yang besifat tashdiqi (definit