Skip to main content

Kupas Tuntas Tersis Berpredikat Mumtaz Ustadz Fauzan Anshory, Lc., M.A.


Kairo - Satu lagi mahasiswa Fakultas Ushuluddin Kairo, Ustadz Fauzan Anshory Ghozali, Lc., M.A., mencapai predikat mumtaz pada sidang tesisnya yang berlangsung di auditorium Imam Adz-Dzahabi, Fakultas Ushuluddin Banin, Universitas Al-Azhar, El Darb El Ahmar, Kairo pada Ahad (20/10).

Sidang terbuka yang berlangsung selama tiga jam itu diampu oleh Prof. Dr. Musthafa Hasan Hasan Abu Al-Khoir; Dosen Hadis dan Ulumul Hadis Fakultas Ushuluddin Kairo dan Kepala Departemen Hadis dua periode sebelumnya sebagai Pembimbing Utama, Dr. Mahmud As-Sayyid Asy-Syaikh; Dosen Hadis dan Ulumul Hadis Fakultas Ushuluddin Kairo sebagai Pembimbing Pendamping, Prof. Dr. Hisyam Ibrahim Faraj; Dosen Hadis dan Ulumul Hadis Fakultas Ushuluddin Kairo dan Kepala Departemen Hadis periode sebelumnya sebagai Pendebat Internal dan Prof. Dr. Mamduh Muhammad Ahmad; Dosen Hadis dan Ulumul Hadis Fakultas Ushuluddin Zaqaziq sebagai Pendebat Eksternal.

Pemuda Minang itu mengaku bahwa ia tak terlalu rajin dalam menggarap tesisnya yang membahas sekitar 200 hadis dan terdiri dari 1041 halaman tersebut karena banyak pekerjaan lain yang ia tekuni, sehingga tesis tersebut digarap selama empat tahun lamanya, dimulai dari tahun 2018 hingga 2022 dengan judul :

كتاب البدر المنير في غريب أحاديث البشير النذير تأليف الإمام العالم العلامة الشيخ عبد الوهاب الشعراني من حديث رقم ١٨٠١ ( لعلك ترزق به ... الحديث) إلى حديث رقم ٢٠٠٠ (المؤمن ملقى والكافر موقى... الحديث) تحقيق ودراسة تحليلية

Dalam pencarian judul bahts diatas, Ust. Fauzan menuturkan bahwa sekitar 11 mahasiswa Indonesia dan luar Indonesia menghadap dosen senior jurusan hadis bersama, untuk mencari masyru’ yang bisa dibahas. Maka, sang dosen memberi masukan untuk menahkik sebuah kitab, yaitu Al-Badr Al-Munir fii Ghariib Ahadits Al-Basyir An-Nadzir karya Imam Asy-Sya’rani, yang terdiri dari sekitar 2.300 hadis.

Sebelas mahasiswa itu menerima masukan tersebut, khuttoh atau kerangka hadis, dengan itu bisa mengajukan judul tersebut ke qism. Sebelas orang itu berembuk dan berbagi tugas seperti mencari manuskrip di Maktabah Masyikhoh Azhar dan Darul Kutub Al-Mishriyyah di Tahrir, yang berhasil mendapatkan lima manuskrip. Ust. Fauzan pribadi menambahkan dua manuskrip dari Maktabah Alexandria dan Maktabah Saudi, yang menjadikan tujuh manuskrip sebagai materi tesisnya.

Ketika ditanya tentang kesulitan dalam menulis tesis, mahasiswa penerima beasiswa Bu’uts tersebut menyatakan, “Cepat selesai atau tidaknya tesis itu dipengaruhi oleh tiga faktor, pertama faktor diri sendiri, kedua faktor pembimbing, dan terakhir faktor kuliah.”

Faktor pertama, yaitu diri sendiri yang tak menulis semasa menempuh S1, walaupun ketika S2 ada sesi tamhidi yang mempelajari tentang cara menulis, namun tak begitu banyak praktik dan materi yang mendetail sehingga membuat beliau bingung dalam memulai penulisan. Hal ini beliau atasi dengan membaca tesis milik para senior sebelumnya untuk melihat metode penulisan serta susunannya. Selain itu, kesulitan beliau adalah menghadapi mood yang naik turun dalam menulis. Terkadang semangat, terkadang tidak. Belum lagi jika harus terbentur oleh persoalan lain. Kesulitan lain adalah ketika wabah Covid-19 menyerang, para mahasiswa Bu’uts diharuskan untuk karantina dan tidak diperbolehkan untuk keluar, sehingga beliau berhalangan untuk memperlihatkan tulisan beliau pada para pembimbing.

Faktor kedua, merupakan pembimbing tesis. Kesulitan yang Fauzan hadapi ketika tengah melakukan mutaba'ah adalah perbedaan pandangan masing-masing pembimbing dalam menulis, maka beliau berusaha untuk menerjemahkan masukan dari kedua pembimbing tersebut. Hal lain yang membuat penulisan tesis cukup lama adalah pemeriksaan tulisan oleh pembimbing yang terkadang memakan waktu, karena mahasiswa yang dibimbing tidak hanya satu saja, melainkan mahasiswa dari berbagai negara, belum lagi kesibukan pribadi para pembimbing tersebut.

Faktor terakhir dalam waktu penulisan tesis adalah kampus. Seperti yang diketahui oleh para mahasiswa, ijro’at di kampus yang rumit dan memakan waktu lama karena masih dilakukan secara tradisional.

Sementara itu, harapan Ust. Fauzan untuk tesis yang telah ia tulis adalah bisa banyak belajar melalui masa-masa tashwib atau revisi, dan menggali materi tesis yang dibuat sehingga semakin matang. Beliau juga berharap bahwa tesis ini bisa menjadi bekal pelajaran dan pengalaman, semangat untuk diri sendiri serta menjadi batu loncatan untuk langkah berikutnya, salah satunya untuk melanjutkan S3.

Pesan Ust. Fauzan untuk mahasiswa yang ingin mengambil Jurusan Hadis ialah harus menekuninya. Secara tak langsung, teman-teman yang telah mengambil jurusan lain sudah memberikan kesempatan dan menyerahkan persoalan hadis kepada mahasiswa yang mengambil Jurusan Hadis, maka tidak elok jika mahasiswa Jurusan Hadis tersebut ditanya persoalan hadis namun tidak bisa menjawabnya. Dan apabila sudah berusaha dan tekun, maka in sya Allah bisa mendapat pahala dari usaha tersebut.

Selanjutnya, beliau menyarankan untuk tidak mencukupkan diri dengan muqorror kuliah. Kalaupun datang tiap hari untuk kuliah, tidak semua materi akan diujikan, sehingga kitab tidak dibaca secara utuh. Maka, solusinya adalah belajar di-talaqqi dan kajian, sehingga apa yang kurang di kampus bisa dilengkapi di luar. Hal ini bisa sangat membantu di S2 nanti. Sayang sekali jika hanya menghafal pengertian tapi tidak tau cara menghukumi hadis. Maka pelajarilah ilmu ‘ilal, dan jarh wa ta’dil supaya bisa memiliki malakah, dan semua itu dicapai dengan berlatih dan berproses. Mudah-mudahan harapan keluarga dan umat bisa memotivasi dalam menuntut ilmu.


(Nahwa Haya Aghniarizka)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Makna Sifat Wahdaniyah?

Sifat wahdaniyah merupakan salah satu sifat Salbiyah dari sifat-sifat wajib Allah. Sifat salbiyyah yaitu: هي الصفات التي تنفي عن الله ما لا يليق بذاته تعالى "Sifat-sifat yang menafikan dari Allah segala sifat yang tidak layak pada Dzat-Nya" Maka sifat wahdaniyah adalah sifat yang menafikan at-ta'ddud (berbilang-bilang), baik itu berbilang dalam dzat (at-ta'addud fî ad-dzât), berbilang dalam sifat (at-ta'addud fî ash-shifât) dan berbilang pada perbuatan (at-ta'addud fî al-af'âl). Adapun rinciannya sebagai berikut: 1.        Keesaan Dzat (Wahdah ad-Dzât) , ada dua macam: a.        Nafyu al-Kamm al-Muttashil (menafikan ketersusunan internal) Artinya, bahwa dzat Allah tidak tersusun dari partikel apapun, baik itu jauhar mutahayyiz, 'ardh ataupun jism. Dalil rasional: "Jikalau suatu dzat tersusun dari bagian-bagian, artinya dzat itu membutuhkan kepada dzat yang membentuknya. Sedangkan Allah mustahil membutuhkan pada suatu apapun. Ma

10 Prinsip Dasar Ilmu Tauhid

A. Al-Hadd: Definisi Ilmu Tauhid Ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang bisa meneguhkan dan menguatkan keyakinan dalam beragama seorang hamba. Juga bisa dikatakan, ilmu Tauhid adalah ilmu pengetahuan yang membahas jalan dan metode yang bisa mengantarkan kita kepada keyakinan tersebut, melalui hujjah (argumentasi) untuk mempertahankannya. Dan juga ilmu tentang cara menjawab keraguan-keraguan yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan menghancurkan agama Islam itu sendiri. B. Maudhu’: Objek Pembahasan Ilmu Tauhid Ada beberapa pembahasan yang dijelaskan dalam ilmu ini, mulai dari pembahasan `maujud` (entitas, sesuatu yang ada), `ma’dum` (sesuatu yang tidak ada), sampai pembahasan tentang sesuatu yang bisa menguatkan keyakinan seorang muslim, melalui metode nadzori (rasionalitas) dan metode ilmi (mengetahui esensi ilmu tauhid), serta metode bagaimana caranya kita supaya mampu memberikan argumentasi untuk mempertahankan keyakinan tersebut. Ketika membahas ent

10 Prinsip Dasar Ilmu Mantiq

 كل فن عشرة # الحد والموضوع ثم الثمرة ونسبة وفضله والواضع # والاسم الاستمداد حكم الشارع مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجميع حاز الشرفا      Dalam memahami suatu permasalahan, terkadang kita mengalami kekeliruan/salah paham, karena pada tabiatnya akal manusia sangat terbatas dalam berpikir bahkan lemah dalam memahami esensi suatu permasalahan. Karena pola pikir manusia selamanya tidak berada pada jalur kebenaran. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seperangkat alat yang bisa menjaga pola pikirnya dari kekeliruan dan kesalahpahaman, serta membantunya dalam mengoperasikan daya pikirnya sebaik mungkin. Alat tersebut dinamakan dengan ilmu Mantiq. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengulas Mabadi ‘Asyaroh - 10 prinsip dasar -  ilmu Mantiq. A.  Takrif: Definisi Ilmu Mantiq      Ditinjau dari aspek pembahasannya, ilmu Mantiq adalah ilmu yang membahas tentang maklumat – pengetahuan - yang bersifat tashowwuri (deskriptif) dan pengetahuan yang besifat tashdiqi (definit